Berikut Dengan Detail Menjelaskan PRODUK Obat Kuat PASUTRI Legal, Herbal, Rekomendasi Boyke dan Co :

 

====================================



Gasa

Showing posts with label Tahun 2020 Indonesia Kehabisan Guru. Show all posts
Showing posts with label Tahun 2020 Indonesia Kehabisan Guru. Show all posts

Tuesday, 10 March 2009

Model VAK

Model VAK 
Written by Dita Maulina  

Sebenarnya sejak awal 1900 para ilmuwan pendidikan dan psikologi membuat berbagai penelitian yang mengungkapkan tentang cara manusia menyerap berbagai informasi. Hasil penelitian dari berbagai generasi selama satu abad ini, mengetengahkan berbagai model tentang perbedaan individual dalam menyerap dan merespon informasi atau yang sekarang lebih dikenal dengan gaya belajar. Cara yang berbeda dari setiap orang dalam menyerap (merespon) dan menerapkan suatu stimulus merupakan salah satu indikasi adanya individual differences (perbedaan setiap individu).

Dari semua model gaya belajar, model Visual-Auditory-Kinesthetic (VAK) merupakan model gaya belajar yang paling banyak dibicarakan.Gaya belajar VAK menggunakan tiga macam sensori dalam menerima informasi, penglihatan, pendengaran dan gerak, ketiganya ini diidentifikasikan sebagai jenis gaya belajar. Semua orang menggunakan ketiganya fungsi sensoriknya untuk menangkap informasi, namun untuk kebanyakan orang ada satu gaya belajar yang dominan, yang merupakan cara terbaik memperoleh informasi. Untuk beberapa orang yang lain mempunyai gaya belajar kombinasi, atau bahkan seimbang untuk ketiga kemampuannya.

Hal inilah yang menjadi dasar sebagian pendapat yang menyatakan bahwa gaya belajar ini bukanlah suatu yang permanen, hanya suatu kecenderungan. Untuk situasi dan kondisi yang berbeda, bisa saja menuntut seseorang untuk menggunakan satu gaya belajar atau kombinasi dari beberapa gaya belajar. 

Secara sederhana, bisa dikatakan gaya belajar adalah proses sepanjang hidup. Dalam tahapannya dapat digambarkan sebagai berikut:

Umur 2-7 tahun cenderung menggunakan gaya belajar kinestetik (learning by doing)
Umur 8-14 tahun cenderung menggunakan gaya belajar visual (learning by seeing)
Umur 15 tahun hingga kuliah cenderung menggunakan gaya belajar auditory (learning by hearing)

Pada umumnya tes untuk menentukan gaya belajar seseorang bisa dilakukan oleh seorang psikolog, melalui konsultasi dan beberapa tes dapat ditentukan kecenderungan gaya belajar seseorang. Namun hal itu bisa juga dilakukan sendiri. Sudah mulai banyak situs-situs internet yang menyediakan alat tes untuk membantu identifikasi gaya belajar seseorang, diantaranya adalah:

http://www.vark-learn.com/english/index.asp
http://www.engr.ncsu.edu/learningstyles/ilsweb.html
http://www.learning4liferesources.com/learning_style.html


Read the rest of this entry -→

Berikut Dengan Detail Menjelaskan PRODUK Obat Kuat PASUTRI Legal, Herbal, Rekomendasi Boyke dan Co :

 

Model VAKSocialTwist Tell-a-Friend

Saturday, 24 January 2009

Tahun 2020 Indonesia Kehabisan Guru


Tahun 2020 Indonesia Kehabisan Guru

Topik: Kebijakan Pendidikan

Artikel:
Hari-hari terakhir ini sedang gencar ditayangkan dua iklan layanan masyarakat di setasiun-stasiun televisi, baik TVRI maupun stasiun televisi swasta. Iklan yang satu berisi pesan tentang anak asuh dan yang lain melukiskan kekurangan guru di negeri kita tercinta ini. Walaupun hanya berdurasi beberapa detik, kedua iklan ini cukup mengundang perhatian, terutama iklan yang disebutkan terakhir.

Kekurangan guru. Sungguh sebuah realitas potret pendidikan kita (salah satu sisi) yang sangat menyedihkan. Betapa tidak, pendidikan adalah modal utama terciptanya kemajuan peradaban sebuah bangsa. Di pihak lain, guru sebagai tenaga profesional di bidang ini justru jumlahnya semakin langka.

Lalu, apa jadinya jika pada tahun-tahun mendatang tidak mudah dijumpai sosok guru? Barangkali Anda semua sudah tahu jawabannya. Sudah pasti peradapan kebudayaan di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini semakin parah daripada kondisi sekarang. Mengapa sampai terjadi kondisi seperti ini?

KILAS BALIK
Keadaan pendidikan seperti dipaparkan pada bagian sebelumnya tentu tidak terjadi bagitu saja. Hal itu pasti ada pemicunya. Penyebab kekeurangan guru yang akan saya paparkan di sini bukan berasal dari hasil penelitian mendalam, tetapi sekadar pengamatan sekilas dan dugaan. Penyebab penurunan jumlah sumber daya manusia (SDM), dalam hal ini guru, akhir-akhir adalah ditutupnya lembaga-lembaga pendidikan keguruan.

Pada paruh pertama tahun 1990-an semua Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dan Pendidikan Guru Agama (PGA) ditutup. Penutupan lembaga pendidikan tersebut beralasan bahwa jenjang pendidikan dasar sudah tidak layak lagi diajar oleh guru-guru tamatan SPG yang notabene hanya berjenjang pendidikan menengah. Sebagai gantinya dibukalah Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Selain itu, sebelum penutupan lembaga-lembaga pendidikan keguruan itu didahului dengan lahirnya sebuah kebijakan yang menetapkan bahwa lulusan SPG tidak otomatis atau langsung diangkat sebagai pegawai negeri, kecualai beberapa orang siswa berprestasi pada tiap angkatan. Akibatnya, banyak lulusan SPG yang beralih ke profesi lain, misalnya pekerja pabrik atau tambak. Fakta seperti ini sangat disayangkan karena para siswa SPG adalah siswa pilihan. Lulusan SLTP yang dapat diterima di SPG adalah siswa yang mempunyai NEM minimum 42,00 dan harus melalui ujian saringan yang bertahap-tahap. Hal itu menunjukkan bahwa yang dapat d iterima di SPG adalah manusia-manusia cerdas dan pilihan. Jadi, mereka sebenarnya adalah tenaga-tenaga potensial.

Berikutnya, menjelang akhir tahun 2000, semua IKIP di Indonesia berubah menjadi universitas meskipun masih ada beberapa STKIP dan FKIP di universitas-universitas. Perubahan status ini tentunya diikuti juga perubahan visi dan misi. Semula berstatus Lembaga Pendidikan Tinggi Keguruan (LPTK)sebagai pencetak tenaga-tenaga pendidik profesional berubah menjadi universitas yang mencetak sarjana-sarjana ilmu murni. Barangkali kebijakan ini bertujuan untuk mencapai target sarjana-sarjana andal di bidang IPTEK dalam rangka menyongsong lahirnya Negara Indonesia sebagai negara maju berbasis teknologi. Obsesi seperti ini sangat bagus. Akan tetapi, penyakit latah bangsa Indonesia ini sukar sekali hilang. Artinya, pada waktu kibijakan perubahan status IKIP menjadi universitas itu disetujui, seharusnya beberapa IKIP di Jawa, Sumatera dan Sulawesi yang sudah berkualitas tetap dipertahankan. Dengan demikian, jumlah guru nantinya tetap tercukupi karena sampai kapan pun sektor pendidikan di sebu ah bangsa tidak akan ditutup. Hal itu berarti bahwa sampai kapan pun tenaga guru masih dibutuhkan.

APA SOLUSINYA
Kekurangan guru, seperti diilustrasikan dalam iklan layanan masyarakat di televisi, baru terjadi pada jenjang pendidikan dasar. Apabila diamati, fenomena ini cukup realistis menggingat penutupan SPG dan PGA sudah hampir sepuluh tahun yang lalu. Lulusan PGSD pun tidak semuanya dapat diterima sebagai pegawai negeri. Sementara itu, pada jenjang pendidikan menengah fenomena kekurangan guru masih belum terasakan. Hal itu wajar karena penutupan IKIP-IKIP baru dua tiga tahun terakhir. BISAKAH ANDA BAYANGKAN PADA TAHUN 2020 MENDATANG?

Untuk mengatasi persoalan kekurangan guru pada jenjang pendidikan dasar, barangkali buah pikiran saya ini dapat dijadikan bahan diskusi. Setelah kebijakan yang menghentikan pengangkatan tenaga guru sekolah dasar (SD), banyak lulusan SPG atau PGA beralih profesi ke bidang lain. Hal itu seharusnya tidak boleh terjadi mengingat mereka adalah tenaga-tenaga pilihan. Ditambah lagi oleh sistem penerimaan mahasiswa PGSD. Dari awal dibukanya, PGSD menerima mahasiswa dari lulusan SMA. Materi soal tesnya pun disesuaikan dengan standar pengajaran di SLTA umum. Tentu saja hal ini merupakan kendala bagi lulusan SPG atau PGA untuk bersaing dengan lulusan SMA karena materi yang diajarkan di SLTA umum dan kejuruan sudah barang tentu berbeda. Akhirnya, para lulusasan SPG jarang yang diterima.

Pada saat perekrutan mahasiswa PGSD seharusnya yang diutamakan terlebih dahulu adalah lulusan SPG atau PGA. Baru kemudian setelah semua lulusan SPG atau PGA ini sudah habis, perekrutan dibuka untuk lulusan SMA.

Akhirnya, untuk mengatasi persoalan kekurangan guru SD, mengapa tidak dicoba untuk memanggil kembali lulusan SPG dan PGA yang belum sempat diterima sebagai guru negeri? Beri mereka beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di PGSD atau STKIP. Setelah lulus langsung diangkat sebagai tenaga guru negeri.

Read the rest of this entry -→

Berikut Dengan Detail Menjelaskan PRODUK Obat Kuat PASUTRI Legal, Herbal, Rekomendasi Boyke dan Co :

 

Tahun 2020 Indonesia Kehabisan GuruSocialTwist Tell-a-Friend